Minggu, 04 Juli 2021

KURIKULUM

Nama : Sri Rahayu 
Nim : 11901266
Kelas : PAI 4 E

A. Pengertian Kurikulum 

Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa inggris yaitu kata curriculum yang berarti rencana pelajaran (Echolz:1984). Kata Curriculum sendiri berasal dari kata "Currere yang berarti berlari cepat, tergesa gesa, menjelajahi, menjalani, dan berusaha (Hassibuan:1979). Dalam kamus Webster's tahun 1857, secara gamblang kurikulum diartikan sebagai rancangan sejumlah mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa untuk naik kelas atau mendapatkan ijazah (menyelesaikan studinya). Menurut Soedijarto, kurikulum merupakan serangkaian pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan untuk diatasi oleh siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh suatu lembaga pendidikan yang berwenang. 

Jadi Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

Salah satu fungsi kurikulum ialah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada atau tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Para ahli berbeda pendapat dalam menetapkan komponen-komponen kurikulum. Ada yang mengemukakan 5 komponen kurikulum dan ada yang mengemukakan hanya 4 komponen kurikulum. Untuk mengetahui pendapat para ahli mengenai komponen kurikulum, seperti berikut ini:

B. Komponen Kurikulum. 

Subandiyah (1993: 4-6) mengemukakan ada 5 komponen kurikulum, yaitu:

1. komponen tujuan

2. komponen isi/materi

3. komponen media (sarana dan prasarana)

4. komponen strategi

5. komponen proses belajar mengajar.

Sementara, Soemanto (1982) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum, yaitu:

1. Objective (tujuan)

2. Knowledges (isi atau materi)

3. School learning experiences (interaksi belajar mengajar di sekolah)

4. Evaluation (penilaian).


C.  Fungsi Kurikulum. 

Kurikulum dalam pendidikan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

1. Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. 

Fungsi kurikulum dalam pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini, alat untuk menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan negara mempunyai filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi, baik segi agama, ideologi, kebudayaan, maupun kebutuhan negara itu sendiri. 

2. Fungsi kurikulum yang lainnya. 

a. Fungsi Kesinambungan. Sekolah pada tingkat atasnya harus mengetahui kurikulum yang dipergunakan pada tingkat bawahnya sehingga dapat menyesuaikan kurikulm yang diselenggarakannya.

b. Fungsi Persiapan Tenaga. Bilamana sekolah tertentu diberi wewenang mempersiapkan tenaga guru bagi sekolah yang memerlukan tenaga guru tadi, baik mengenai isi, organisasi, maupun cara mengajar.

3. Fungsi kurikulum bagi sekolah. 

Kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan mempunyai fungsi sebagai berikut:

a. Sebagai alat mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan

b. Sebagai pedoman mengatur segala kegiatan sehari-hari di sekolah tersebut, fungsi ini meliputi:

Jenis program pendidikan yang harus dilaksanakan. 

Cara menyelenggarakan setiap jenis program pendidikan. 

Orang yang bertanggung jawab dan melaksanakan program pendidikan. 

4. Fungsi kurikulum bagi guru .

Guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum sesuai dengan kurikulum yang berlaku, tetapi juga sebagai pengembangan kurikulum dalam rangka pelaksanaan kurikulum tersebut.

5. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah. 

Bagi kepala sekolah, kurikulum merupakan barometer atau alat pengukur keberhasilan program pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah dituntut untuk menguasai dan mengontrol, apakah kegiatan proses pendidikan yang dilaksanakan itu berpijak pada kurikulum yang berlaku.

6. Fungsi kurikulum bagi pengawas (supervisor).

Bagi para pengawas, fungsi kurikulum dapat dijadikan sebagai pedoman, patokan, atau ukuran dan menetapkan bagaimana yang memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalam usaha pelaksanaan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan.

7. Fungsi kurikulum bagi masyarakat. 

Melalui kurikulum sekolah yang bersangkutan, masyarakat bisa mengetahui apakah pengetahuan, sikap, dan nilai serta keterampilan yang dibutuhkannya relevan atau tidak dengan kurikulum suatu sekolah.

8. Fungsi kurikulum bagi instansi atau perusahaan. 

Instansi atau perusahaan yang mempergunakan tenaga kerja bisa meggunakan kurikulum untuk meningkatkan kuantitas suatu produk dan kualitas pekerja. yang nantinya akan melancarkan bisnis suatu instansi atau perusahaan. 


D. Jenis-jenis kurikulum di Indonesia. 

a. Rencana pelajaran 1947.

b. Rencana pelajaran terurai 1952.

c. Rencana pendidikan 1964.

d. Kurikulum 1968.

e. Kurikulum 1975.

f. Kurikulum 1984.

g. Kurikulum 1994.

h. Kurikulum 2004 (KBK) 

i. Kurikulum 2006 (KTSP) 

j. Kurikulum 2013.

k. Kurikulum 2013 Revis

Sabtu, 01 Mei 2021

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

 NAMA : SRI RAHAYU
 NIM : 11901266 
KELAS : PAI 4 E 
MAKUL : MAGANG 1


KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK


A. Pengertian Karakteristik Peserta Didik

Apa itu karakteristik peserta didik? Karakteristik berasal dari kata karakter yang berarti ciri, tabiat, watak, dan kebiasaan yang dimiliki oleh seseorang yang sifatnya relatif tetap. Karakteristik peserta didik dapat diartikan keseluruhan pola kelakukan atau kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan, sehingga menentukan aktivitasnya dalam mencapai cita-cita atau tujuannya. Informasi terkait karakteristik peserta didik sangat diperlukan untuk kepentingan-kepentingan dalam perancangan pembelajaran. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Ardhana dalam Asri Budiningsih (2017: 11) karakteristik peserta didik adalah salah satu variabel dalam desain pembelajaran yang biasanya didefinisikan sebagai latar belakang pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik termasuk aspek-aspek lain yang ada pada diri mereka seperti kemampuan umum, ekspektasi terhadap pembelajaran dan ciri-ciri jasmani serta emosional siswa yang memberikan dampak terhadap keefektifan belajar.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman atas karakteristik peserta didik dimaksudkan untuk mengenali ciri-ciri dari setiap peserta didik yang nantinya akan menghasilkan berbagai data terkait siapa peserta didik dan sebagai informasi penting yang nantinya dijadikan pijakan dalam menentukan berbagai metode yang optimal guna mencapai keberhasilan kegiatan pembelajaran.


B. Ragam Karakteristik Peserta Didik

Uraian yang akan disajikan berikut ini memaparkan tentang pentingnya dan ragam/jenis karakteristik peserta didik. Suatu proses pembelajaran akan dapat berlangsung secara efektif atau tidak, sangat ditentukan oleh seberapa tinggi tingkat pemahaman pendidik tentang karakteristik yang dimiliki peserta didiknya. Pemahaman karakteristik peserta didik sangat menentukan hasil belajar yang akan dicapai, aktivitas yang perlu dilakukan, dan assesmen yang tepat bagi peserta didik. Atas dasar ini sebenarnya karakteristik peserta didik harus menjadi perhatian dan pijakan pendidik dalam melakukan seluruh aktivitas pembelajaran. Karakteristik peserta didik meliputi: etnik, kultural, status sosial, minat, perkembangan kognitif, kemampuan awal, gaya belajar, motivasi, perkembangan emosi, perkembangan sosial, perkembangan moral dan spiritual, dan perkembangan motoric.

Agar Anda memperoleh gambaran yang jelas tentang ragam karakteristik peserta didik tersebut, maka ikuti paparan berikut:


1. Etnik

Negara Indonesia merupakan negara yang luas wilayahnya dan kaya akan etniknya. Namun berkat perkembangan alat transpotasi yang semakin modern, maka seolah tidak ada batas antar daerah/suku dan juga tidak ada kesulitan menuju daerah lain untuk bersekolah, sehingga dalam sekolah dan kelas tertentu terdapat multi etnik/suku bangsa, seperti dalam satu kelas kadang terdiri dari peserta didik etnik Jawa, Sunda, Madura, Minang, dan Bali, maupun etnik lainnya.Implikasi dari etnik ini, pendidik dalam melakukan proses pembelajaran perlu memperhatikan jenis etnik apa saja yang terdapat dalam kelasnya. Data tentang keberagaman etnis di kelasnya menjadi informasi yang sangat berharga bagi pendidik dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Seorang pendidik yang menghadapi peserta didik hanya satu etnik di kelasnya, tentunya tidak sesulit yang multi etnik. 

2. Kultural 

Implikasi dari aspek kultural dalam proses pembelajaran ini pendidik dapat menerapkan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural menurut Choirul (2016: 187) memiliki ciri-ciri: 1) Tujuannya membentuk “manusia budaya” dan menciptakan manusia berbudaya (berperadaban). 2). Materinya mangajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis (kultural). 3) metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalisme). 4). Evaluasinya ditentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi aspek persepsi, apresiasi, dan tindakan terhadap budaya lainnya.

Atas dasar definisi dan ciri-ciri pendidikan multikultural tersebut di atas, maka pendidik dalam melakukan proses pembelajaran harus mampu mensikapi keberagaman budaya yang ada di sekolahnya/kelasnya. Misalnya Pak Irwan seorang pendidik disalah satu SMA ketika menjelaskan materi pelajaran dan dalam memberikan contoh-contoh perlu mempertimbangkan keberagaman budaya tersebut, sehingga apa yang disampaikan dapat diterima oleh semua peserta didik, atau tidak hanya berlaku untuk budaya tertentu saja.


3. Status Sosial 

Peserta didik dengan bervariasi status ekonomi dan sosialnya menyatu untuk saling berinteraksi dan saling melakukan proses pembelajaran. Perbedaan ini hendaknya tidak menjadi penghambat dalam melakukan proses pembelajaran. Namun tidak dapat dipungkiri kadang dijumpai status sosial ekonomi ini menjadi penghambat peserta didik dalam belajar secara kelompok. Implikasi dengan adanya variasi status-sosial ekonomi ini pendidik dituntut untuk mampu bertindak adil dan tidak diskriminatif. Contohnya dalam proses pembelajaran pendidik jangan sampai membeda- bedakan atau diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada peserta didiknya, dan juga dalam memberikan tugas-tugas yang sekiranya mampu diselesaikan oleh semua peserta didik dengan latar belakang ekonomi sosial yang sangat beragam.

4. Minat

Minat dapat diartikan suatu rasa lebih suka, rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas. Hurlock (1990: 114) menyatakan bahwa minat merupakan suatu sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang dipilihnya. Apabila seseorang melihat sesuatu yang memberikan manfaat, maka dirinya akan memperoleh kepuasan dan akan berminat pada hal tersebut. Lebih lanjut Sardiman, (2011: 76) menjelaskan bahwa minat sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu apa yang dilihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingan orang tersebut.

Atas dasar hal tersebut sebenarnya minat seseorang khususnya minat belajar peserta didik memegang peran yang sangat penting. Sehingga perlu untuk terus ditumbuh kembangkan sesuai dengan minat yang dimiliki seorang peserta didik. Namun sebagaimana kita ketahui bahwa minat belajar peserta didik tidaklah sama, ada peserta didik yang memiliki minat belajarnya tinggi, ada yang sedang, dan bahkan rendah.

Minggu, 25 April 2021

4 KOMPETENSI GURU PROFESIONAL

 NAMA : SRI RAHAYU

NIM : 11901266 
KELAS : PAI 4 E 
MAKUL : MAGANG 1


4 KOMPETENSI GURU PROFESIONAL 


Dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru adalah hasil dari penggabungan dari kemampuan-kemampuan yang banyak jenisnya, dapat berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam menjalankan tugas keprofesionalannya. Menurut Suparlan (2008:93) menambahkan bahwa standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu pengelolaan pembelajaran, pengembangan profesi, dan penguasaan akademik. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.

1. Kompetensi Pedagogik 

Kompetensi Pedagogik Guru adalah kemampuan atau keterampilan guru yang bisa mengelola suatu proses pembelajaran atau interaksi belajar mengajar dengan peserta didik.

Setidaknya ada 7 aspek dalam kompetensi Pedagogik yang harus dikuasai, yaitu:

a. Karakteristik para peserta didik. Dari informasi mengenai karakteristik peserta didik, guru harus bisa menyesuaikan diri untuk membantu pembelajaran pada tiap-tiap peserta didik.

b. Teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik. Guru harus bisa menerangkan teori pelajaran secara jelas pada peserta didik. Menggunakan pendekatan tertentu dengan menerapkan strategi, teknik atau metode yang kreatif.

c. Pengembangan kurikulum. Guru harus bisa menyusun silabus dan RPP sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan.

d. Pembelajaran yang mendidik. 

e. Pengembangan potensi para peserta didik. Setiap peserta didik memiliki potensi yang berbeda-beda. 

f. Cara berkomunikasi. 

g. Penilaian dan evaluasi belajar.

2. Kompetensi Kepribadian 

Kompetensi Kepribadian berkaitan dengan karakter personal. Ada indikator yang mencerminkan kepribadian positif seorang guru yaitu: supel, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, berwibawa, santun, empati, ikhlas, berakhlak mulia, bertindak sesuai norma sosial & hukum, dan lain-lain.Kepribadian positif wajib dimiliki seorang guru karena para guru harus bisa jadi teladan bagi para siswanya. Selain itu, guru juga harus mampu mendidik para siswanya supaya memiliki attitude yang baik.

3. Kompetensi Sosial 

Kompetensi Sosial berkaitan dengan keterampilan komunikasi, bersikap dan berinteraksi secara umum, baik itu dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, hingga masyarakat secara luas.

Indikator dari Kompetensi Sosial Guru diantaranya:

1. Mampu berkomunikasi dengan efektif, menggunakan bahasa yang santun dan empatik.

2. Mampu bersikap inklusif, objektif, dan tidak melakukan diskriminasi terkait latar belakang seseorang, baik itu berkaitan dengan kondisi fisik, status sosial, jenis kelamin, ras, latar belakang keluarga, dan lain-lain. 

3. Mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan.

4. Mampu beradaptasi dan menjalankan tugas sebagai guru di berbagai lingkungan dengan bermacam-macam ciri sosial budaya masing-masing.

4. Kompetensi Profesional

Kompetensi Profesional Guru adalah kemampuan atau keterampilan yang wajib dimiliki supaya tugas-tugas keguruan bisa diselesaikan dengan baik.

Keterampilannya berkaitan dengan hal-hal yang cukup teknis, dan akan berkaitan langsung dengan kinerja guru.

Sabtu, 17 April 2021

MANAJEMEN SEKOLAH

NAMA : SRI RAHAYU 

NIM : 11901266

KELAS : PAI 4 E

MAKUL : MAGANG 1


MANAJEMEM SEKOLAH 

Manajeme Sekolah sebagai terjemahan dari School Management adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk merancang kembali pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan kepada Kepala Sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru, siswa, kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Manajemen Sekolah merubah sistem pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap pihak yang berkepentingan di tingkat lokal (local stakeholders).

Sagala (2011: 55) mengatakan bahwa manajemen sekolah adalah proses dan instansi yang memimpin dan membimbing penyelenggaraan pekerjaan sekolah sebagai suatu organisasi dan mewujudkan tujuan pendidikan dan tujuan sekolah yang telah ditetapkan. 

Menurut James Jr. manajemen  sekolah adalah proses pendayagunaan sumber-sumber manusiawi bagi penyelenggara sekolah secara efektif.

Menurut Stoner Manajemen secara umum yang dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Manajemen sekolah adalah Suatu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar-mengajar yang optimal. Maka dengan demikian ada beberapa faktor manajemen sekolah sebagai berikut:

1. Faktor Fungsi Pokok Manajemen Sekolah

2. Faktor Efektivitas,  Efisiensi dan Produktivitas Manajemen Sekolah

3. Faktor Pendidik

Manajemen yang baik ialah manajemen yang tidak jauh menyimpang dari konsep dan yang sesuai dengan obyek yang ditangani serta tempat organisasi itu berada. Sebagai bagian dari suatu ilmu, seharusnya manajemen itu tidak boleh menyimpang dari konsep manajemen yang sudah ada. Namun variasi bisa terjadi akibat kreasi dan inovasi para manajer. Variasi ini berkaitan dengan obyek yang ditangani dan tempat organisasi itu.

Manajemen yang dapat menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan kondisi disebut manajemen yang fleksibel. Manajemen ini tidak kaku, ia dapat berlangsung dalam kondisi dan situasi yang berbeda-beda. Kebijakan-kebijkan pemerintah yang baru, tuntutan-tuntutan masyarakat yang brubah dari semula, perubahan-perubahan nilai masyarakat, dan sebagainya tidak akan menghentikan aktivitas manajemen ini. Manajemen akan berjalan terus dengan revisi di sana-sini. Hal ini menjamin kelangsungan hidup organisasi. Oleh sebab itu para manajer perlu mengusahakan manajemen agar bersifat fleksibel.

Jadi dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan, karena dengan adanya manajemen yang baik maka tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif dan efisien.

Sabtu, 10 April 2021

KULTUR SEKOLAH

 NAMA : SRI RAHAYU 

NIM : 11901266

KELAS : PAI 4 E

MATA KULIAH : MAGANG 1

KULTUR SEKOLAH

Pengertian Kultur Sekolah

Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.

Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. 

Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).

Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. 

Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah.

Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam ujud fisik maupun abstrak. Kultur sekolah dalam suatu lingkungan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah. Perwujudan kultur sekolah perlu diusahakan kondisi yang mendukungnya, yaitu: kepemimpinan/keteladanan, dan bimbingan terhadap setiap anggota agar mampu meningkatkan semangat kerja dan rasa bangga akan korpnya. 

Nilai, moral, sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah, dan perkembangan mereka tidak dapat dihindarkan dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah serta oleh interaksi mereka dengan aspek/komponen di sekolah.

References

Ekosusilo, M. 2003. Sistem Ni.lai dalam Budaya Organisasi pada Sekolah Unggul (Studi Multi Kasus di SMU Negeri 1, SMU Regina Pacis, dan SMU Al Islam I di Surakarta).

Gordon, J.R. 1991. A Diasnostic Approach to Organizational Behavior. 3td.ed. Needham Hights, Mass: Allyn and Bacon.


Jumat, 29 November 2019



Nama: Sri Rahayu
Nim: 11901266




CERITA KEHIDUPAN SI PEMALU


   Namaku syifa,  aku tinggal di pedesaan yang terpencil, aku mempunyai sifat yang susah untuk bergaul dengan lingkungan disekitar, di sekolah, maupun di tempat-tempat umum.  Aku ini orangnya sangat pemalu, tidak memiliki keberanian untuk ngomong duluan ke orang lain yang belum dikenal baik di sekolah maupun di rumah aku memang terkenal dengan sifat pendiamku ini. Dan banyak teman di sekolahku dan di kelasku yang sering membully diriku tetapi aku hanya terdiam dan tidak berani untuk melawan bully an mereka terhadap diriku.
    Sejak aku SD, aku sering dijauhi sama teman-teman ku sendiri dan mereka mengatai diriku.  Akupun langsung menangis dan sesampainya di rumah aku tidak langsung memberitahu ibuku,  karena aku tidak ingin mengecewakan ibuku yang paling aku sayang.  Karena aku pikir  kita masih kecil dan aku hanya menganggap ini hanyalah candaan bisa yang dilakukan oleh temanku tapi lama kelamaan cendaan ini melewati batasannya.  Dan akupun langsung mengadukan hal ini kepada guruku dan ibuku karena aku sudah tidak kuat dengan bully an dari teman-temanku, apalah daya ku yang hanya jadi anak pendiam ini.
     Dan aku pun merasakan sedikit lebih lega, karena akan memulai di kehidupan yang baru di SMP karena tidak akan mendengarkan atau terkena bully an mereka lagi, tetapi semua ini di luar ekspektasi ku. karena di awal-awal masuk memang tidak terjadi apa-apa tetapi setelah aku naik di kelas 3 SMP aku mengalaminya lagi, karena sebagian temanku yang di SD satu sekolah denganku di SMP, dan sampai kini mereka masih mengatai diriku ini.
    Aku juga sering nangis sendirian di kelas, memang ada teman-teman yang Setia kepadaku tetapi dia juga tidak bisa berbuat atau melakukan tindakan apa-apa. Aku sadar aku ini orangny tidak cantik, pemalu, dan juga pendiam. Tetapi disini aku berusaha untuk sabar dan ikhlas, mungkin di balik ini ada hikmah atau pelajaran yang bisa aku ambil untuk merubah diriku menjadi  sosok yang lebih berani dan tidak pemalu lagi karena aku ingin menjadi orang yang sukses tanpa harus malu.

Sabtu, 16 November 2019

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA PEMUDA ZAMAN SEKARANG.
Oleh: Sri rahayu
Nim : 11901266

Menurut pendapat saya, Pendidikan Agama Islam untuk pemuda zaman sekarang ini kurang baik karena pemuda zaman sekarang tingkah lakunya kurang mencerminkan seorang pemuda yang baik dan sopan. Contohnya sering membohongi orang tuanya salah dalam memilih pergaulan sehingga pengaruh atau dampak nya yaitu mempengaruhi akhlak mereka. Maka dari itu Pendidikan Agama Islam sekarang ini harus atau lebih ditekankan lagi terutama pada pelajaran akhlak Karena kalau saya lihat anak zaman sekarang Ini kebanyakan tidak terjamin alatnya dan masih perlu bimbingan dari gurunya.

Menurut saya, Pendidikan Agama Islam ialah suatu pembelajaran yang membahas tentang pendidikan agama Islam dan materi tentang Apa itu pendidikan Islam sehingga kita bisa mengetahui apa itu Pendidikan Agama Islam tersebut.
Menurut Zakiah Drajat jadikan agama Islam adalah suatu usaha untuk Membina dan mempengaruhi peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan agar dapat mengamankan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.

Qs. Asy-syu'ara:214
yang artinya: "Dan berilah pernyataan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat"
Ayat ini menjelaskan bahwa seorang guru harus memberikan secara seimbang tidak membedakan mana yang kaya dan mana yang miskin atau menganggap semuanya sama guru wajib mengajar kepada anak didik siapapun yang melanggar atau tidak sesuai dengan kaidah yang telah diajarkan.

1. Sholat. Sholat adalah salah satu ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah SWT.
2. membaca alquran. Alquran harus dibaca dan dipelajari untuk dijadikan awal dalam kehidupan sehari-hari.
3. Saling memberikan atau berbagi ilmu pengetahuan yang kita miliki kepada teman atau sama manusia.